Targettuntas.com – Soppeng,- Persoalan antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Soppeng kembali menjadi sorotan. Sejumlah sopir truk mengeluhkan kondisi tersebut yang dinilai kembali terjadi dalam dua hari terakhir.
Keluhan itu mencuat setelah sebelumnya para sopir truk sempat merasakan kondisi yang lebih lancar hanya beberapa hari setelah pergantian Kapolres Soppeng. Namun, belakangan antrean panjang kembali terjadi dan membuat para pengemudi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Berdasarkan informasi dan temuan lapangan yang dihimpun media, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan adanya praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi oleh oknum tertentu yang selama ini kerap disebut sebagai “mafia BBM”.
Sejumlah sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebut, dugaan praktik tersebut tidak semestinya hanya menjadi persoalan sesaat. Jika benar terjadi, aparat penegak hukum dinilai perlu melakukan pengusutan secara menyeluruh, termasuk menelusuri dugaan keterlibatan oknum pelangsir maupun pihak lain yang berkaitan dengan distribusi BBM bersubsidi.
“Jangan setengah-setengah. Kalau memang ditemukan praktik penyalahgunaan BBM subsidi, tindak tegas siapa pun yang terlibat. Jangan hanya berhenti pada pelangsir di lapangan, tetapi telusuri sampai ke pihak yang diduga menjadi pemasok, pengatur, maupun yang memberikan ruang terhadap praktik tersebut,” ujar salah seorang sumber, Kamis (20/8/2026).
Menurut sumber tersebut, dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Sebab, apabila praktik itu berlangsung terus-menerus, masyarakat yang seharusnya mendapatkan manfaat dari BBM bersubsidi justru berpotensi menjadi pihak yang dirugikan.
Keluhan para sopir truk juga menjadi pertanyaan besar: mengapa antrean bisa kembali panjang hanya dalam hitungan hari setelah sebelumnya sempat normal?
Pertanyaan tersebut tentu membutuhkan jawaban yang terang dan terbuka. Jika distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai ketentuan, maka penyebab antrean panjang harus dapat dijelaskan secara objektif kepada masyarakat.
Karena itu, Kapolres Soppeng yang baru AKBP Hari Budiyanto diminta tidak ragu mengambil langkah tegas apabila dalam penyelidikan ditemukan adanya tindak pidana penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Bukan hanya pelaku di lapangan yang perlu diperiksa. Jika terdapat indikasi adanya jaringan atau kerja sama dengan oknum tertentu, maka seluruh mata rantai dugaan penyalahgunaan tersebut harus dibongkar.
Masyarakat tentu berharap pergantian pimpinan di tubuh Polres Soppeng tidak hanya menghadirkan perubahan secara seremonial, tetapi juga membawa langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Jangan sampai masyarakat terus mengantre, sementara pihak tertentu justru menikmati keuntungan dari BBM yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat.
Kini bola berada di tangan aparat penegak hukum. Masyarakat menunggu: apakah dugaan mafia BBM subsidi di Soppeng benar-benar akan dibongkar sampai ke akar-akarnya, atau kembali hanya menjadi persoalan yang ramai sesaat lalu menghilang?
Catatan: seluruh dugaan dalam berita ini perlu dikonfirmasi kepada pihak SPBU, Pertamina, Polres Soppeng, dan pihak terkait lainnya agar pemberitaan tetap berimbang. Redaksi tetap membuka ruang bagi semua pihak yang di maksud.
(Target)









